Featured Post Today
print this page
Latest Post
Tampilkan postingan dengan label budidaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label budidaya. Tampilkan semua postingan

Tehnik Budidaya Apel Malang

Pemangkasan cabang serta ranting tanaman apel saat ini dapat tidak dikerjakan lagi. Dengan pemangkasan akar, tanaman apel terus pendek serta kualitasnya tambah baik. Petani apel di malang serta bali biasanya telah tahu, agar berbunga serta berbuah, ranting serta cabang tanaman dengan teratur mesti dipangkas. Bekas potongan itu setelah itu diolesi ter atau paraffin supaya tidak jadi jalur masuk bakteri atau cendawan pemicu penyakit. Tanaman apel yang tidak dikendalikan perkembangan vegetatifnya dapat malas berbuah.

Petani apel Amerika juga paham bahwa perkembangan vegetative tanaman mesti dihambat. Tetapi mereka tidak ingin repot memotong serta mengoles. Dari pada mesti memangkas ranting, mereka lebih senang memotong akar, tak hanya lebih praktis, pembuahan nyatanya dapat dipacu lebih awal serta sekalian kualitasnya tambah baik.

Menurut hasil penelitian yang dikerjakan oleh James R Schupp dari pusat litbang pertanian Ohio, kampus Ohio, Amerika Serikat, pemotongan akar dapat menyebabkan perkembangan vegetative tanaman apel dihambat hingga 40 %, sepanjang lebih kurang satu musim. Lantas sepanjang itu juga tanaman tak perlu dipangkas. Ukuran buahnya memanglah lantas lebih kecil, namun jumlah buah yang dihasilkan tidak dipengaruhi.

Faedah pemotongan akar nyatanya semakin banyak daripada pemangkasan cabang. tanaman bukan sekedar jadi lebih cepat berbuah, mutu buah yang dihasilkan lalu tambah baik. warnanya lebih menarik, buahnya lebih keras hingga lebih tahan lama, serta rasa manisnya dapat meningkat. kian lebih itu, kerugian pada saat awal produksi pertama dapat ditekan dikarenakan jumlah bunga serta buah yang rontok menyusut.

Waktu pemotongan mesti tepat

Dampak positif pemotongan akar cuma dapat didapatkan bila akar dipotong pada saat yang pas. waktu pemotongan akar sangat baik dikerjakan waktu tanaman mulai berbunga. selambat-lambatnya, pemotongan mesti telah dikerjakan dua minggu lantas. melalui waktu tersebut, hasil panen justru dapat menyusut serta penghambatan perkembangan tanaman pada musim tersebut dapat gagal.

Dikarenakan teknologi mekanisasi pertanian di amerika telah maju, pemotongan akar dikerjakan dengan pisau spesial yang dipasang pada batang logam. batang logam itu setelah itu diletakkan dibagian belakang traktor. saat traktor digerakkan diantara barisan tanaman apel, dengan sesuatu tuas, kedudukan pisau diatur hingga terbenam serta tanah lalu teriris.

Dipotong sedalam 30 cm

Hasil terbaik dapat didapatkan bila ke-2 segi barisan tanaman apel diiris sedalam 30 cm. pada apel melrose( m. 26 ), pemotongan dikerjakan sejauh 60 cm atau 82 cm dari pangkal batang. namun penelitian yang dikerjakan di kampus maine, amerika serikat, memberikan akar apel mc intosh ( mm. 111 ) mesti dipotong sejauh 100 cm dari pangkal batang sedalam 30 cm.

Sisi ekonomis

Harga buah apel yang besar lebih mahal daripada yang kecil. disamping itu, tiap-tiap kotak berisi dapat lebih sedikit bila ukuran buahnya besar-besar. karena petani dapat beroleh keuntungan semakin banyak bila ia dapat membuahkan buah sejenis itu.

Namun ukuran buah yang besar terkadang juga kurang beruntung. contohnya warna buahnya lantas tidak mencukupi syarat minimum grade, bila ditunggu sampai warnanya mencukupi syarat, buah banyak yang gugur, atau jadi banyak yang rusak saat di angkut dikarenakan buahnya lebih lunak.

Disinilah pemotongan akar dapat bertindak. kerugian dikarenakan ukuran buah lebih kecil bisa diganti dengan buah yang warnanya lebih menarik, terasa lebih manis, tidak mudah gugur, serta tahan diangkut.

Lantas, apakah tanaman apel mesti senantiasa dipotong akarnya ?

Bila mutu buah serta peningkatan keuntungan pada saat panenan awal dapat mengimbangi kerugian dikarenakan ukuran buah yang dipanen lebih kecil, pemotongan akar baiknya dikerjakan. terlebih bila perkembangan tanaman amat subur serta jarak tanaman cukup rapat, keuntungannya dapat makin nyata.

Namun bila dengan sedikit pemangkasan cabang telah bisa didapatkan buah apel yang warnanya merah, layaknya yang berlangsung pada panenan musim kemarau, pemotongan akar tambah baik tidak dikerjakan.

Sumber :
http://pertaninak.blogspot.com/2013/05/tehnik-budidaya-apel-malang.html
0 komentar

Budidaya Ikan Gabus

Hampir semua orang tahu tentang ikan gabus. Karena mereka sudah merasakan kelezatan masakan ikan gabus. Ikan inipun mudah sekali didapat, bisa dibeli di pasar, bahkan di warung-warung sekitar tempat tinggalnya. Namun apakah mereka tahu asal-usul ikan tersebut. Tentu saja tidak semua orang tahu, termasuk cara budidayanya. Inilah yang akan dikupas dalam artikel ini.

Soal asal usul.
Ternyata ikan gabus adalah ikan asli Indonesia. Hidup di perairan sekitar kita, di rawa, di waduk dan di sungai-sungai yang airnya tenang. Namun ikan gabus yang bisa dibeli di pasar-pasar dan warung-warung, kemungkinan besar dari Kalimantan. Karena pulau itulah yang kini menjadi pemasok terbesar untuk pasar-pasar seluruh Indonesia. Namun sayang, populasi ikan gabus di alam sudah mulai berkurang, sehingga budidaya ikan ini perlu dikembangkan.

Lalu soal cara bagaimana budidaya ikan gabus? Ternyata budidaya ikan gabus tidak susah. Tidak perlu dengan pemijahan buatan, cukup dengan pemijahan alami. Tentu saja hal ini disebabkan karena ikan gabus sudah akrab dengan perairan kita. Salah satu instansi perikanan yang sudah berhasil adalah Balai Budidaya Air Tawar Mandiangin, Kalimantan Selatan. Artikel inipun diambil dari salah satu leafletnya.

Namun sebelum mengupas tentang cara budidayanya, alangkah lebih baiknya kita tahu dulu tentang biologinya, terutama habitat, kebiasaan hidup, kebiasaan makan dan sistematikanya. Di Kalimantan, ikan gabus banyak ditemukan di rawa-rawa daerah pedalaman, hidup di dasar perairan yang dangkal, bersifat carnivor atau pemakan daging, terutama ikan-ikan kecil yang mendekatinya. Ikan gabus bersifat musiman, memijah pada musim hujan dari Bulan Oktober hingga Desember.

Secara sistematika, seorang ahli perikanan, Kottelat (1993) memasukan ikan gabus ke dalam :
Kelas : Pisces;
Ordo : Labyrinthycy;
Famili : Chanidae;
Genus : Channa;
Spesies : Channa striata; sinonim dengan Ophiochephalus striatus.
Ikan gabus memiliki nama lain, yaitu gabus isilah Indonesia, Haruan merupakan nama daerah Kalimantan. Sedangkan dalam Bahasa Inggris disebut Snake Head Fish.

Beda jantan dan betina
Jantan dan betina ikan gabus bisa dibedakan dengan mudah. Caranya dengan melihat tanda-tanda pada tubuh. Jantan ditandai dengan kepala lonjong, warna tubuh lebih gelap, lubang kelamin memerah dan apabila diurut keluar cairan putih bening. Betina ditandai dengan kepala membulat, warna tubuh lebih terang, perut membesar dan lembek, bila diurut keluar telur. Induk jantan dan harus sudah mencapai 1 kg.

Pemijahan
Pemijahan dilakukan dalam bak beton atau fibreglass. Caranya, siapkan sebuah bak beton ukuran panjang 5 m, lebar 3 m dan tinggi 1 m; keringkan selama 3 – 4 hari; masukan air setinggi 50 cm dan biarkan mengalir selama pemijahan; sebagai perangsang pemijahan, masukan eceng gondok hingga menutupi sebagian permukaan bak; masukan 30 ekor induk betina; masukan pula 30 ekor induk jantan; biarkan memijah; ambil telur dengan sekupnet halus; telur siap untuk ditetaskan.

Untuk mengetahui terjadinya pemijahan dilakukan pengontrolan setiap hari. Telur bersifat mengapung di permukaan air. Satu ekor induk betina bisa menghasilkan telur sebanyak 10.000 – 11.000 butir.

Penetasan telur
Penetasan telur dilakukan di akuarium. Caranya : siapkan sebuah akuarium ukuran panjang 60 cm, lebar 40 cm dan tinggi 40 cm; keringkan selama 2 hari; isi air bersih setinggi 40 cm; pasang dua buah titik aerasi dan hidupkan selama penetasan; pasang pula pemanas air hingga bersuhu 28 O C; masukan telur dengan kepadatan 4 – 6 butir/cm2; biarkan menetas. Telur akan menetas dalam waktu 24 jam. Sampai dua hari, larva tidak perlu diberi pakan, karena masih menyimpan makanan cadangan.

Pemeliharaan larva
Pemeliharaan larva dilakukan setelah 2 hari menetas hingga berumur 15 hari, dalam akuarium yang sama dengan kepadatan 5 ekor/liter. Kelebihan larva bisa dipelihara dalam akuarium lain. Pada umur 2 hari, larva diberi pakan berupa naupli artemia dengan frekwensi 3 kali sehari. Dari umur 5 hari, larva diberi pakan tambahan berupa daphnia 3 kali sehari, secukupnya. Untuk menjaga kualitas air, dilakukan penyiponan, dengan membuang kotoran dan sisa pakan dan mengganti dengan air baru sebanyak 50 persen. Penyiponan dilakukan 3 hari sekali, tergantung kualitas air.

Pendederan
Pendederan I ikan gabus dilakukan di kolam tanah. Caranya : siapkan kolam ukuran 200 m2; keringkan selama 4 – 5 hari; perbaiki seluruh bagiannya; buatkan kemalir dengan lebar 40 cm dan tinggi 10 cm; ratakan tanah dasarnya; tebarkan 5 - 7 karung kotoran ayam atau puyuh; isi air setinggi 40 cm dan rendam selama 5 hari (air tidak dialirkan); tebar 4.000 ekor larva pada pagi hari; setelah 2 hari, beri 1 – 2 kg tepung pelet atau pelet yang telah direndam setiap hari; panen benih dilakukan setelah berumur 3 minggu.

Sumber : http://world-aquaculture.blogspot.com/
0 komentar

Budidaya Kepiting Bakau

Berkembangnya pangsa pasar kepiting bakau (Scylla serrata) baik di dalam maupun di luar negeri adalah suatu tantangan untuk meningkatkan produksi secara berkesinambungan. Dengan mengandalkan produksi semata dari alam/tangkapan jelas sepenuhnya dapat diharapkan kesinambungan produksinya. Untuk itu perlu adanya usaha budidaya bagi jenis crustacea yang mempunyai nilai ekonomis tinggi.

Usaha budidaya kepiting bakau harus didukung oleh tersedianya lahan yang bebas polusi, benih dan kemampuan pengelolaan secara teknis maupun manajemen. Lahan pemeliharaan dapat menggunakan tambak tradisional sebagaimana dipakai untuk memelihara udang atau bandeng.

Jenis Kepiting Bakau

Jenis kepiting bakau yang mempunyai nilai ekonomis tinggi antara lain :
1. Scylla serrata, jenis ini mempunyai ciri warna keabu-abuan sampai warna hijau kemerah-merahan.
2. Scylla oceanica, berwarna kehijauandan terdapat garis berwarna coklat pada hampir seluruh bagian tubuhnya kecuali bagian perut.
3. Scylla transquebarica, berwarna kehijauan sampai kehitaman dengan sedikit garis berwarna coklat pada kaki renangnya.

Dari ketiga jenis kepiting tersebut diatas, Scylla serrata pada umur yang sama umumnya berukuran lebih kecil dibandingkan kedua jenis lainnya. Tetapi dari segi harga dan minta pembeli, jenis pertama tadi lebih unggul.

Tingkah Laku dan Kebiasaan Kepiting Bakau

Secara umum tingkah laku dan kebiasaan kepiting bakau yang dapat diamati adalah sbb:
1. Suka berendam dalam lumpur dan membuat lubang pada dinding atau pematang tambak pemeliharaan. Dengan mengetahui kebiasaan ini, maka kita dapat merencanakan atau mendesain tempat pemeliharaan sedemikian rupa agar kemungkinan lolosnya kepiting yang dipelihara sekecil mungkin.
2. Kanibalisme dan saling menyerang, sifat inilah yang paling menyolok pada kepiting sehingga dapat merugikan usaha penanganan hidup dan budidayanya. Karena sifatnya yang saling menyerang ini akan menyebabkan kelulusan hidup rendah dan menurunkan produktivitas tambak. Sifat kanibalisme ini yang paling dominan ada pada kepiting jantan, oleh karena itu budidaya monosex pada produksi kepiting akan memberikan kelangsungan hidup lebih baik.
3. Molting atau ganti kulit. Sebagaimana hewan jenis crustacea, maka kepiting juga mempunyai sifat seperti crustacea yang lain, yaitu molting atau ganti kulit. Setiap terjadi ganti kulit, kepiting akan mengalami pertumbuhan besar karapas maupun beratnya. Umumnya pergantian kulit akan terjadi sekitar 18 kali mulai dari stadia instar sampai dewasa. Selama proses ganti kulit, kepiting memerlukan energi dan gerakan yang cukup kuat, maka bagi kepiting dewasa yang mengalami pergantian kulit perlu tempat yang cukup luas.
Pertumbuhan kepiting akan terlihat lebih pesat pada saat masih muda, hal ini berkaitan dengan frekuensi pergantian kulit pada saat stadia awal tersebut. Periode dan tipe frekuensi ganti kulit penting artinya dalam melakukan pola usaha budidaya yang terkait dengan desain dan konstruksi wadah, tipe budidaya dan pengelolaanya.
4. Kepekaan terhadap Polutan
Kualitas air sangat berpengaruh terhadap ketahanan hidup kepiting. Penurunan mutu air dapat terjadi karena kelebihan sisa pakan yang membusuk. Bila kondisi kepiting lemah, misalnya tidak cepat memberikan reaksi bila dipegang atau perutnya kosong bila dibelah, kemungkinan ini akibat dari menurunnya mutuair. Untuk menghindari akibat yang lebih buruk lagi, selekasnya pindahkan kepiting ke tempat pemeliharaan lain yang kondisi airnya masih segar.

Lokasi Budidaya

Tambak pemeliharaan kepiting diusahakan mempunyai kedalaman 0,8-1,0 meter dengan salinitas air antara 15-30 ppt.Tanah tambak berlumpur dengan tekstur tanah liat berpasir (sandy clay) atau lempung berliat (silty loam) dan perbedaan pasang surut antara 1,5-2 meter. Disamping syarat seperti tersebut diatas, pada prinsipnya tambak pemeliharaan bandeng maupun udang tradisional dapat digunakan sebagai tempat pemeliharaan kepiting.

Faktor yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan lokasi pemeliharaan kepiting, antara lain :
1. Air yang digunakan bebas dari pencemaran dan jumlahnya cukup.
2. Tersedia pakan yang cukup dan terjamin kontinyuitasnya.
3. Terdapat sarana dan prasaranaproduksi dan pemasarannya.
4. Tenaga yang terampil dan menguasai teknis budidaya kepiting.

Disain dan Konstruksi Tambak

Apabila perlakuan terhadap kepiting selama masa pemeliharaan kurang baik, seperti : mutu air kurang diperhatikan, makanan tidak mencukupi maka pada saat kepiting tersebut mencapai kondisi biologis matang telur akan berusaha meloloskan diri, dengan jalan memanjat dinding/pagar atau dengan cara membuat lubang pada pematang. Untuk menghindari hal tersebut, maka konstruksi pematang dan pintu air perlu diperhatikan secermat mungkin. Pada pematang dapat dipasang pagar kere bambu atau dari waring, hal ini akan mnegurangi kemungkinan lolosnya kepiting.

Pemasangan pagar kere bambu atau waring pematang yang kokoh (lebar 2-4 meter) dilakukan diatas pematang bagian pinggir dengan ketinggian sekitar 60 cm. Pada tambak yang pematangnya tidak kokoh, pemasangan pagar dilakukan pada kaki dasar pematang dengan tinggi minimal 1 meter.

Penebaran

Pada lokasi penghasil kepiting tangkapan dari alam, pada musim benih unyuk budiadaya tradisional petani hanya mengandalkan benih kepiting benih kepiting yang masuk secara alami pada saat pasang surut air. Setelah beberapa bulan mulai dilakukan panen selektif dengan memungut kepiting yang berukuran siap jual. Dapat juga kepiting yang sudah mencapai ukuran tersebut dilepas kembali ke dalam petak pembesaran untuk memperoleh ukuran atau kegemukan yang lebih besar.

Pada budidaya polikultur dengan ikan bandeng, ukuran benih kepiting dengan berat 20-50 gram dapat ditebar dengan kepadatan 1000-2000 ekor/Ha, dan ikan bandeng gelondongan yang berukuran berat 2-5 gram ditebar dengan kepadatan 2000-3000 ekor/Ha. Pada budidaya sistem monokultur benih kepiting dengan ukuran seperti tersebut diatas ditebar dengan kepadatan 5000-15000 ekor/Ha.

Budidaya Kepiting Bertelur

Kepiting yang baru saja dipanen dari tambak, dapat dibudidaya lebih lanjut untuk meningkatkan mutu kepiting betina tidak bertelur atau bertelur belum penuh menjadi bertelur penuh dengan cara budidaya yang lebih intensif. Dengan kondisi betelur maka akan menaikkan nilai tambahnya. Karena harga kepiting betina bertelur dapat mencapai 2-3 kali harga kepiting tidak bertelur, sehingga hal ini akan sangat membantu menaikkan pendapatan petani nelayan.

Metode yang digunakan untuk tujuan produksi kepiting bertelur ada dua macam, yakni : dengan sistim kurungan dan sistim karamba apung.

1. Sistim Kurungan

Kurungan dapat dibuat dari bahan bambu yang dibuat menjadi rangkaian. Lebat bilah bambu 1-2 cm dengan panjang 1,7 meter. Bilah-bilah bambu dirangkai secara teratur sehingga membentuk kere atau semacam pagar. Kere ini kemudian dipasang pada saluran tambak memanjang pada pinggirannya, bila dipasang dalam tambak, agar ditempatkan pada bagian yang relatif lebih dalam dan mendapat penggantian air yang cukup.

Kere atau pagar bambu ditancapkan sedalam 30 cm dengan bagian bawah dibuat lebih rapat bertujuan agar kepiting tidak lolos. Untuk penempatan kurungan pada saluran tambak ukurannya disesuaikan dengan lebar saluran tersebut dan agar tidak mengganggu kelancaran aliran saluran tambak tersebut. Untuk skala yang lebih besar dapat menggunakan petakan tambak dengan luasan antara 0,25-0,50 hektar dengan pagar keliling dari kere bambu ataupun dari waring. pagar bambu ditancapkan sedalam kurang lebih 30 cm dan diusahakan bagian yang halus menghadap ke dalam dengan maksud agar kepiting tidak dapat memanjat karena bagian ini licin.

2. Karamba Apung

Selain menggunakan kurungan, untuk budidaya kepiting bertelur dapat juga menggunakan karamba apung. Karamba apung dibuat dari rangkaian bilah bambu seperti pada pembuatan kere, kemudian kere yang sudah dirangkai menjadi kotak, yang ukurannya disesuaikan dengan lokasi dimana karamba apung akan ditempatkan. Selanjutnya pada sisi-sisi panjang yang berlawanan dipasang pelampung yang terbuat dari potongan bambu yang masih utuh atau dari bahan lainnya. Penempatan karamba apung ini pada tempat bergantian airnya terjadi secara cukup/baik, seperti pada saluran, tepi sungai dan tempat lainnya yang memenuhi persyaratan seperti tersebut diatas. Pada usaha budidaya dengan karamba apung ini kepadatan dapat mencapai 20 ekor/m2, dengan kepadatan tersebut akan meningkatkan kelulusan hidup kepiting yang dipelihara. Ukuran siap panen kepiting bertelur sekitar 200 gr/ekor.

Proses produksi kepiting bertelur paling lama berlangsung sekitar 5-14 hari atau tergantung ukuran awal penebaran. Singkatnya masa pemeliharaan ini juga dimungkinkan karena kepiting betina yang ditebar dengan berat sekitar 150 gram biasanya sudah mengandung telur.

Usaha Penggemukan

Usaha budidaya selain dijadikan kepiting bertelur adalah usaha penggemukan. proses usaha penggemukan sama dengan budidaya produksi kepiting bertelur. Caranya dapat dengan menggunakan kurungan bambu atau karamba bambu apung. Perbedaan yang jelas terletak pada kepiting yang dipelihara. Kepiting yang dipelihara pada usaha penggemukan ini adalah kepiting berukuran ekspor dari jenis kelamin jantan maupun betina yang masih keropos. Jangka waktu penggemukan sekitar 5-10 hari, kepiting sudah akan menjadi gemuk dan berisi bila pemeliharaannya secara baik. Apabila dilanjutkan pemeliharaannya bagi yang berjenis kelaminbetina, bahkan akan menjadi kepiting bertelur. Untuk menghindari mortalitas akibat perkelahian antara jantan dan betina, sebaiknya pemelihraan dilakukan secara monosex.

Pakan

Berbagai jenis pakan seperti : ikan rucah, usus ayam, kulit sapi, kulit kambing, bekicot, keong sawah, dll. dari jenis pakan tersebut, ikan rucah segar lebih baik ditinjau dari fisik maupun kimiawi dan peluang untuk segera dimakan lebih cepat karena begitu ditebar tidak akan segera dimakan oleh kepiting.

Pemberian pakan pada usaha pembesaran hanya bersifat suplemen dengan dosis sekitar 5%. Lain halnya pada usaha kepiting bertelur dan penggemukan, pemberian pakan harus lebih diperhatikan dengan dosis antara 5-15% dari erat kepiting yang dipelihara.

Kemauan makan kepiting muda biasanya lebih besar, karena pada periode ini dibutuhkan sejumlah makanan yang cukup banyak untuk pertumbuhan dan proses ganti kulit. Kemauan makan akan berkurang pada saat kepiting sedang bertelur, dan puncaknya setelah telur keluar sepertinya kepiting berpuasa.

Pasca Panen Kepiting Bakau

Salah satu hal yang menguntungkan dalam penanganan kepiting setelah dipanen adalah kemampuannya bertahan hidup cukup lama pada kondisi tanpa air. Namun demikian, penanganan yang kurang baik tetap saja akan menurunkan kondisi kesehatannya dan dapat menyebabkan kematian.

Apabila kepiting setelah dipanen langsung dimasukkan kedalam keranjang dengan mengikat capit, kaki jalan dan kaki renangnya yang merupakan alat gerak yang cukup kuat, maka kepiting tersebut akan saling capit satu dengan yang lainnya.

Kondisi demikian akan menimbulkan kerusakan secara fisik pada tubuh kepiting dan mempengaruhi kondisi fisiologis yang akhirnya dapat mengakibatkan kematian. Untuk mengatasi keadaan tersebut kepiting yang baru ditangkap harus segera diikat sebelum dimasukkan ke dalam keranjang.

Cara pengikatan kepiting yang baru ditangkap dapat dilakukan seperti dibawah ini :
1. Pengikatan kedua capit dan seluruh kaki-kakinya
2. Pengikatan capitnya saja dengan satu tali
3. Pengikatan masing-masing capit dengan tali terpisah

tali pengikat dapat menggunakan tali rafia atau jenis tali lainnya yang cukup kuat. Setelah kepiting diikat, baik pengikatan capitnya saja maupun pengikatan seluruh kaki-kakinya akan mempermudah penanganan dan pengangkutannya

Penanganan kepiting yang telah disusun dalam keranjang yang perlu mendapat perhatian ialah tetap menjaga suhu dan kelembaban. Usahakan suhu tidak lebih tinggi dari 26°C dan kelembaban yang baik adalah 95%. Cara yang dapat dilakukan untuk menjaga suhu dan kelembaban ideal bagi kelangsungan hidup kepiting selama dalam pengangkutan ialah : elupkan kepiting ke dalam air payau (salinitas 15-25‰) selama kurang lebih 5 menit sambil digoyang-goyangkan agar kotoran terlepas. Setalah kepiting disusun kembali di dalam wadah. tutuplah wadah dengan karung goni basah.

Sumber : http://ikanmania.wordpress.com/

0 komentar

Budidaya Jamur Champignon Bagian II

Tahapan budidaya jamur kancing pada dasarnya hampir sama dengan jamur kompos lainnya seperti jamur merang yaitu dimulai dengan pembuatan kompos, sterilisasi, inokulasi/ penanaman bibit, dan pemanenan. Perbedaannya terletak pada perlakuan di dalam beberapa tahapannya.

Berikut tahapan-tahapan dalam budidaya Jamur kancing :

1. Pengomposan
Jerami merupakan salah satu media utama dalam budidaya jamur kancing. Kandungan hara dalam jerami seperti Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K) sangat diperlukan untuk pertumbuhan jamur. Hanya saja unsur Nitrogen dalam jerami belum mencukupi kebutuhan jamur untuk tumbuh dengan baik. Oleh karena itu, diperlukan tambahan media lain yang memiliki kandungan N yang cukup tinggi seperti pupuk organik atau pupuk alami dari kotoran kuda atau kotoran unggas. Selain unsur-unsur tersebut, jamur juga memerlukan nutrisi dan vitamin yang bisa diperoleh dengan penambahan bekatul/dedak. Untuk menjaga pH media tanam agar tetap netral (pH 7) diperlukan juga penambahan kapur (CaCo3). Bahan lain yang sangat dianjurkan untuk ditambahkan yaitu air kelapa karena kandungannya yang lengkap. Air kelapa kaya akan mineral, vitamin, gula, maupun asam amino yang sangat baik untuk pertumbuhan jamur.

Supaya nutrisi dalam media dapat diserap dengan mudah oleh jamur, media tanam perlu dimatangkan/dilapukkan terlebih dahulu melalui proses pengomposan. Pengomposan selain dapat melapukkan media, juga dapat mematikan mikroba-mikroba patogen/penyakit sehingga dapat mengurangi kemungkinan kontaminasi.

Beberapa formula media tanam yang bisa digunakan dalam budidaya jamur kancing diantaranya :

a) Formula 1
100 kg jerami
5 kg Bekatul
2 kg Kapur
1 kg ZA
3 kg Urea
3 liter Air Kelapa

b) Formula 2
100 kg jerami
10 kg kotoran kuda / kotoran ayam
5 kg bekatul
1 kg urea
2 kg kapur

Teknik Pengomposan :
Jerami dipotong-potong (semakin kecil semakin baik) kemudian dicuci dengan air mengalir. Setelah bersih dari tanah dan zat-zat pengotor lainnya, jerami ditiriskan. Kelembaban jerami dijaga antara 60-70% yang ditandai dengan kondisi jerami yang basah tetapi ketika diangkat airnya tidak sampai menetes.

Jerami selanjutnya disusun setinggi 10-15 cm, kemudian diselingi dengan menaburkan kapur, bekatul, dan kotoran kuda/ayam di atasnya. Langkah tersebut diulang hingga tumpukan jerami mencapai ketinggian ±1,5 m. Agar pengomposan berjalan dengan baik, tumpukan media jerami sebaiknya di tutup dengan terpal atau plastik.

Untuk menghasilkan kompos yang merata, lapisan di aduk setiap tiga hari sekali. Tiga hari pertama lapisan diaduk/dibalik sambil ditambahkan urea. Tiga hari kedua atau hari keenam lapisan dibalik lagi sambil ditambahkan dengan ZA. Setiap tiga hari selanjutnya lapisan di balik tanpa penambahan zat lain. Pengomposan dilakukan selama 18-21 hari. Proses pengomposan yang sempurna akan menghasilkan kompos dengan cirri warna yang gelap, tidak berbau, struktur halus/remah dan pH netral (pH 7).

Sumber : http://organikganesha.com/2010/04/06/budidaya-jamur-champignon-bagian-ii/

0 komentar

Usaha Budidaya Zaitun

Peluang usaha budidaya tanaman ternyata memberikan hasil yang cukup menguntungkan. Dari segi permintaan pasar juga banyak. Para penggemar zaitun di tanah air ternyata hanya menjadikan tanaman ini sebagai ornamen atau penghias sudut di rumah. Jenis bibit tanaman ini dibanderol mulai harga kisaran 300 ribu hingga 700 ribu. Dengan harga itu, pelaku usaha budidaya sanggup mendapatkan omset sampai puluhan juta rupiah.

Zaitun atau yang memiliki nama latin Olea europaea adalah tanaman asli Timur Tengah dan Afrika Selatan. Tumbuhan tersebut mempunyai beberapa manfaat untuk kehidupan manusia. Manfaat pertama tumbuhan itu bisa dari buahnya. Buah zaitun yang sudah tua bisa menghasilkan minyak yang dapat dimanfaatkan buat berbagai jenis kebutuhan. Dari mulai kesehatan hingga produk kecantikan wanita.

Hal tersebutlah yang membuat tanaman ini menjadi banyak dicari di Indonesia bahkan di dunia. Salah satu contoh pelaku budidaya tanaman ini di negara kita adalah Parta Suhanda di Bogor Jawa Barat. Kurang lebih sudah 5 tahun dia fokus membudidayakan bibit pohon zaitun. Alasan dia tertarik membudidayakan tanaman ini, karena permintaan pasar untuk pohon zaitun di Indonesia cukup tinggi, sedangkan untuk stok pasokan masih sedikit.

Dia menjual bibit zaitun langsung ke konsumen, selain itu juga memasok para pedagang tanaman hias. Rata-rata konsumennya berasal dari Bogor dan Jakarta. Parta Suhanda menyatakan sering kwalahan memenuhi permintaan, terutama dari para pedagang tanaman. Katanya ada pedagang yang memesan 100 pohon dalam satu bulan, namun dia tidak bisa mensanggupinya.

Cara membudidayakan tanaman rumahan ini adalah kuncinya harus hati-hati. Hal itu dikarenakan tanaman tersebut sangat sensitif terhadap perubahan tempat, dan bisa mati jika akarnya belum cukup kuat. Tumbuhan ini sangat menyenangi cuaca panas, karena itu tanaman ini termasuk yang tumbuh di daerah panas. Jika saat musim panas tiba, dia sanggup memasarkan lebih dari 100 pohon tiap 1 bulan. Dengan harga jual bibit 300 ribu hingga 500 ribu tiap batangnya dia bisa mendapatkan omset kira-kira Rp30.000.000 sampai Rp40.000.000 tiap bulannya.

Bagaimana, tertarik Budidaya Zaitun yang termasuk dalam Peluang Bisnis Rumahan ini?

Sumber : http://kuncibisnis.com/peluang-usaha-rumahan-budidaya-zaitun.php#.PDCoSK4dVWk
0 komentar

Peluang Usaha Budidaya Bunga Gerbera

Bunga potong selalu dibutuhkan dalam setiap momen maupun suasana seperti mempercantik ruangan, rangkaian bunga hotel, hiasan pameran, ucapan suka dan dukacita, taman pengantin hingga bucket bunga. Diantara berbagai jenis bunga potong salah satunya adalah bunga garbera yang diminati. Bagaimana cara budidaya bunga garbera dan bagaimana perhitungan usahanya? Untuk budidaya bunga garbera dapat dilakukan di daerah dengan ketinggian 560 – 1400 m dpl.

Pertumbuhan optimal pada area penanaman beriklim sejuk dengan suhu udara minimum 13.7 – 18 celcius. Penanaman dilakukan dengan green house berukuran 20 x 20 m2.

Berikut Cara Budidaya Bunga Gerbera:

Pemilihan BIBIT.
Bibit yang digunakan diambil dari anakan. Anakan diambil dari batang bunga garbera jenis unggul berumur 12 bulan. Pilih indukan yang banyak tunas, produktif berbunga, pertumbuhan normal, sehat dan memiliki 7 -8 anakan per rumpun tanaman. Bersihkan anakan dari media tanam dan daun yg sudah tua. Pindahkan langsung ke green house. Resiko kematian tanaman yang berasal dari anakan adalah sekitar 10%.

Persiapan Media.
Media tanam yang paling baik harus memiliki pH berkisar 5,5 – 6,0 berupa campuran pupuk kandang dan sekam dengan perbandingan 5:1 yang kemudian disemprot dengan larutan obat E4 (obat berbentuk tepung yang berfungsi mencegah tumbuhnya bakteri). Selanjutnya diendapkan dan tutup rapat dengan terpal atau plastik selama satu bulan. Pengadukan perlu dilakukan agar campuran pupuk merata dan siap digunakan sebagai media tanam bunga garbera. Untuk memenuhi lahan seluas 400 m2 pupuk kandang yang dibutuhkan sekitar 6 ton dan sekam sebanyak 500 kg. Sedangkan obat E4 dibutuhkan sebanyak 6 botol isi 2 liter dilarutkan dalam 8 liter air per botol.

Penanaman dan Pemeliharaan.
Penanaman bibit dilakukan dalam green house dan dibuat bedengan berukuran 20 x 1m dengan tinggi 30 cm serta parit untuk saluran air di setiap sisinya. Jarak penanaman dapat dilakukan 20 x 20 cm antar benih. Penyiraman dilakukan setiap pagi, 2 hari sekali. Kalau musim kemarau penyiraman dilakukan setiap hari. Pembersihan lahan dari rumput dan daun – daunan rutin dilakukan perhari. Pemupukan dilakukan bertahap 15 hari sekali. Ada 2 tahap, Tahap 1 bunga gerbera disemprot larutan pupuk NPK 15:15:15 dengan dosis 4,5 kh x 150 L air tiap green house.

Pemberian pupuk
Pemberian pupuk tahap 1 dilakukan pada umur tanaman 15 haridan 30 hari terhitung sejak penanaman bibit. Tahap 2 pemberian pupuk NPK 15:15:15, KCL dan TSP sebanyak 10 Kg per green house dengan perbandingan 30% untuk masing2 pupuk. tahap 2 diberikan pada usia tanaman 45 hari dengan cara ditabur ke sekitar akar tanaman. Pemberian pupuk bertahan ini dilakukan terus menerus hingga habis masa produksi yaitu umur 12 bulan. Setelah itu bunga di relokasi pada lahan baru yang bertujuan untuk menjaga kualitas dan jumlah produksinya.

Penanganan Hama Penyakit.
Bunga gerbera termasuk tanaman yang rentan hama. Hama yang biasa menyerang adalah ulat dan belalang. Pencegahannya dilakukan dengan menyemprotkan insektisida seperti proclam tiap minggu dengan takaran 5 gr/liter air. Jenis penyakit yang menyerang biasanya bercak daun, penyakit tepung dan kapang kelabu yg menyebabkan daun berwarna coklat. Pencegahannya dengan menggunakan fungisida seperti antracol 70 WP tiap minggu dengan takaran 5 gr /Liter air. Hal ini dilakukan saat bunga gerbera belum tumbuh. Tapi jika bunga sudah tumbuh bisa diberikan Diazinon tiap minggu dengan takaran 5gr / liter air.

Panen.
Waktu panen bunga gerbera dimulai saat kuntum bunga telah mekar penuh terhitung 2 – 3 bulan dari bibit anakan. Bunga gerbera dapat dipanen tiap minggu dengan kapasitas produksi 1200 kuntum bunga per green house dengan penyusutan produksi sebesar 10%. Panen berlangsung setiap minggu terhitungsejak panen perdana / umur tanaman 100 hari hingga habis masa produksi ( 12 bulan ). Bunga gerbera yg telah dipanen di rendam dalam air selama kurang lebih 1 jam dan diikat 10 batang lalu dibungkus dengan plastik atau kertas dan dimasukan dalam kardus karton / keranjang denga posisi tegak. Pengangkutan dilakukan dengan kendaraan berpendingin dengan suhu 7 -8 celsius, dengan kelembaban udara 60 -65 % untuk menjaga kesegaran bunga.

Perhintungan Analisis Usaha Bunga Gerbera
Perhitungan Usaha dan Asumsi Pendapatan Pembudidaya Bunga Gerbera per bulan:
Semoga bermanfaat

Sumber / referensi: Agrobisnis Tabloid Peluang Usaha
http://idepeluangusaha.com/peluang-usaha-budidaya-bunga-gerbera/
0 komentar

Cara Budidaya Bonsai

Bonsai merupakan salah satu teknik memperindah tanaman hias. Bonsai ini banyak diminati oleh banyak kalangan. Harganya pun cukup mahal. Namun sebenarnya semua juga bisa membuat tanaman bonsai, dan semua tanaman bisa dibuat bonsai. Berikut adalah cara membuat bonsai.

Beberapa teknik yang sering digunakan untuk memperbanyak bonsai adalah dengan pemotongan bagian vegetatif dan layering. Kedua cara ini digemari para pebisnis bonsai karena relatif cepat dan mudah. Anda bisa memotong percabangan bonsai, kemudian menanamnya pada media tumbuh yang sesuai untuk menghasilkan bonsai baru.

Ranting bonsai yang dipotong harus cukup tebal dan kokoh agar bisa menjadi anakan baru yang cantik. Jika ranting yang Anda potong berasal dari bonsai yang telah cukup tua, maka anakannya pun akan memiliki kesan setua induknya, dan ini merupakan nilai plus tersendiri bagi bonsai Anda. Memang pemunculan akar dari ranting yang sudah tua lebih lama jika dibandingkan dengan ranting yang masih muda. Namun, tidak ada salahnya mencoba bukan? Anakan hasil potongan harus dibiarkan tumbuh sekitar 6 bulan terlebih dahulu, baru Anda boleh mem-bonsainya.

Teknik perbanyakan bonsai yang kedua adalah dengan layering. Teknik ini mirip dengan cangkok, yaitu membiarkan ranting membentuk akar selama masih menempel pada induknya. Prosedurnya pun dapat dilakukan dengan cara cangkok biasa, yaitu mengupas kulit kayu pada bagian yang ingin dijadikan anakan baru, menyelimutinya dengan media lalu dibungkus plastik.

Cangkokan terus disiram sampai tumbuh akar. Jika akar telah tumbuh, Anda boleh memindahkan anakan tersebut ke media yang terpisah dari induknya. Biasanya bagian yang dicangkok adalah cabang yang cukup tebal agar anakan bonsai tumbuh seindah bonsai induknya dengan kokoh. Anda juga dapat melakukan cangkok bonsai pada bagian akar atau tunas.

Teknik lainnya yang cukup umum digunakan adalah menyambung beberapa jenis bonsai untuk menghasilkan varian baru. Misalnya bonsai spesies A akan disambungkan dengan spesies B. Ranting bonsai A dipotong, sementara kulit kayu bonsai B dikupas pada bagian yang ingin disambungkan. Tempelkan potongan bonsai A pada bagian bonsai B yang telah dikupas, bungkus dengan plastik yang telah diberi semprotan hormone agar kedua bagian cepat menyatu.

Kultur bonsai juga bisa didapatkan dengan potongan daun. Namun, cara ini tidak selalu berhasil pada semua spesies. Cari lah referansi lain yang bisa dijadikan sebagai pendukung. Semoga artikel ini bermanfaat, dan anda berhasil dalam membudidaya bonsai.

Sumber : http://wartaberita3.blogspot.com/
0 komentar
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Twrbaik - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger